Jumat, 31 Juli 2009

Siapa Ahmed Deedat? Seorang Dair Besar Dunia


Tak seorang pun yang menyangka, seorang bekas penjual garam di Afrika Selatan, berubah menjadi seorang da'i besar dunia. Namanya melanglang buana setelah terjadi perdebatan antara dia dengan seorang pendeta tersohor di Amerika. Sehingga banyak anak-anak muda Nasrani yang masuk Islam.

Sang da'iyah ini benar-benar menyadari akan apa-apa yang diucapkannya. Ia berbicara dengan lemah lembut dan sopan santun. la memahami beberapa bahasa asing. Ia membaca ketiga kitab suci agama samawi dengan mendalam, sehingga ia mampu menangkis serangan lawan terhadap agama dan nabinya, bahkan terhadap pribadinya sekalipun.

Ia seorang da'i yang penuh tanggung jawab. Ia termasuk salah seorang yang benar-benar memahami asal muasal dakwah Islam. Ia juga memiliki kemahiran dalam membawakannya.

Ahmed Deedat memiliki kisah unik sejak saat kelahirannya hingga saat kemasyhurannya. Inilah secercah kisahnya yang dikutip dari harian "Asy Syarqul Ausath", Saudi Arabia.

Inilah perkenalan dan dialog dengan Ahmed Deedat.

Nama Saya Ahmed Husein Deedat. Saya dilahirkan di india dari kedua orang tua Muslim, yaitu Husein Kazim Deedat dan Fatimah. Ayah saya bekerja sebagai petani dan ibu saya membantunya. Pada usia sembilan tahun, saya dibawa pindah ke Durban, Afrika Selatan.

Kemudian ayah mengalihkan profesinya dari seorang petani menjadi seorang penjahit pakaian. Saya disekolahkan di Islamic Centre di Durban untuk belajar Al-Qur'an dan hukum-hukum Islam lainnya.

Pada tahun 1934 saya berhasil menamatkan sekolah Ibtidaiyah. Pada waktu itu saya merasa bertanggung jawab untuk membantu ayah. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka toko menjual garam. lnilah tahap kehidupan yang cukup penting buat saya.

Kemudian saya pindah profesi bekerja di perusahaan pembuat perabot rumah. Di sana saya bekerja selama dua belas tahun. Mula-mula sebagai supir, kemudian naik ke bagian pemasaran dan terakhir menjabat sebagai direktur perusahaan tersebut. Tetapi saya tidak meninggalkan bangku sekolah. Dalam diriku seolah-olah ada dorongan batin yang mendorongku untuk terus belajar. Kemudian saya melanjutkan ke fakultas Seni Negeri yang memuat materi pelajaran matematika dan ilmu manajemen perusahaan.

Saya tidak pernah melupakan bujuk rayu para penginjil kepada saya ketika saya masih berjualan garam. Setiap kali saya bertemu dengan mereka untuk mendagangkan garam, mereka tak bosan-bosannya menawarkan agamanya kepada saya dan kepada rekan-rekan lainnya yang muslim. Rupanya demikianlah cara dan kebiasaan mereka di sana.

Setelah itu, pada tahun 1949 saya pergi ke Pakistan untuk mencari uang yang lebih banyak lagi agar bisa membiayai dakwah saya. Saya tinggal di Pakistan selama tiga tahun. Kemudian saya harus cepat-cepat kembali ke Afrika Selatan. Kalau tidak cepat-cepat, maka ijin tinggal saya bisa dicabut, karena saya tidak dilahirkan di sana. Ini merupakan peraturan yang berlaku di sana.

Di Pakistan, saya menjabat sebagai direktur Perusahaan Tenun. Ketika saya kembali ke Durban saya juga menjabat direktur perusahaan yang lama, yang pernah saya jabat sebelum pergi ke Pakistan. Demikianlah, saya mempersiapkan diri hingga tahun 1956 untuk menjadi seorang da'i.

Di mana titik perubahan yang hakiki dalam kehidupan tuan Deedat?

Sebenarnya titik perubahan yang hakiki dalam kehidupannya dimulai pada tahun 1940-an. Perubahan ini dimulai sejak kunjungan delegasi Adam ke toko garamnya. Pada waktu itu mereka mengajukan pertanyaan tentang agama Islam. Pada waktu itu Deedat belum sanggup menjawab, apalagi menangkisnya. Tapi dari kelemahan dan ketidak-berdayaannya itu, serta dari kegugupan dan kebodohannya dia bangkit dan merasa dipacu untuk berpikir dan dengan segala daya membela agamanya.

Sejak itulah Deedat memutuskan untuk mempelajari kitab Injil dalam berbagai cetakan bahasa Inggris.

"Suatu kemujuran bagi saya, karena. ternyata saya mahir sekali berbicara dalam bahasa itu. Bahasa Inggris merupakan bahasa resmi Afrika Selatan. Saya mempelajari semua kitab Injil dengan tenang dan mendalam, termasuk kitab Injil dalam bahasa Arab. Sementara itu saya melakukan perbandingan terhadap berbagai Injil. Setelah saya merasa memiliki kesanggupan yang lumayan untuk mengadakan dakwah Islam dan menghadapi serangan para penginjil itu, maka mulailah saya memutuskan untuk menghentikan semua kegiatan perusahaan dan perdagangan saya. Ternyata Alhamdulillah, kini saya ridha benar dengan kegiatan saya yang baru. Malah kini saya yang bertanya kepada mereka, dan banyak di antara mereka yang tidak berdaya dalam menjawab pertanyaan saya!"

Selain delegasi Adam, apakah ada faktor lain yang mempunyai kesan mendalam di hati tuan Deedat?

"Ya!" Ada faktor lain yang tidak kalah berkesannya dengan delegasi Adam, dan itu selalu mengganggu pikiran saya. Ini terjadi ketika saya bekerja di Pakistan. Ketika saya sedang mengatur barang dalam gudang, saya menemukan sebuah buku yang berjudul "Idh harul Haq", ("Menampakkan Kebenaran") yang ditulis oleh Syaekh Rahmatullah A1 Hindi.

Buku ini menelanjangi sistem penjajahan Inggris di India. Penjajah itu berpendapat bahwa bahaya yang paling besar yang dihadapinya selama ini adalah dari agama Islam dan kaum Muslimin. Untuk menghadapi bahaya itu, penjajah Inggris menyusun rencana yang cermat dan teliti. Mereka mencari cara untuk menghancurkan Islam, mempolarisasikan kaum Muslimin dan mengkristenkan mereka. Dengan demikian, yang kemarin menjadi oposisi akan menjadi pendukung penjajahan Barat di India.

Maka dimulailah penggalakkan kunjungan para missionaris yang beragam. Mereka dibiayai secara besar-besaran untuk menghapuskan semua ciri dan adat istiadat Islam dari kehidupan kaum Muslimin. Mahkota Islam berupa sorban dan jilbab sedikit demi sedikit mulai berkurang baik di jalan-jalan kota maupun desa di India.

Para penginjil mulai berkeliaran dan berani mengadakan debat agama dengan kaum Muslimin guna membungkam mereka. Para penginjil berani melakukan hal itu karena mereka tahu sebagian besar umat Islam memang tidak banyak mengetahui agamanya sendiri. Seperti halnya saya sendiri ketika berhadapan dengan delegasi Adam. Akhirnya saya mulai memahami dan menyadari cara kerja mereka dalam mengepung kaum Muslimin, baik di Afrika maupun di Pakistan.

Namun terkadang obat penyembuhnya ada di dalam penyakit itu sendiri. Dari buku itu ternyata saya mendapatkan pengetahuan yang luas dan penting. Buku ini banyak berisi tentang perdebatan. Saya banyak memperoleh ilmu baru dari setiap kalimat yang saya baca dalam buku itu. Kini saya benar-benar mempersiapkan diri dan mempelajari buku itu secara mendalam tentang tata cara berdialog dan berdebat tanpa harus belajar di akademi atau lembaga khusus dan tanpa melakukan latihan.

Akhirnya, ternyata saya bisa berdebat dengan bapak gereja, ulama ketuhanan dan dengan tokoh-tokoh missionaris dunia. Dialog dan perdebatan itu malah sudah menjadi hobby utama saya, sehingga semakin hari pengetahuan saya tentang agama Islam, Masehi dan Yahudi makin kuat dan mantap. Dengan modal itulah saya berhadapan dengan siapapun yang ingin menemukan kebenaran.

Anda berbicara tentang dialog dan perdebatan, tetapi anda belum berbicara tentang besarnya pengaruh buku. Bagaimana kedudukan buku menurut anda, tuan Deedat?

Pada tahun empat puluhan saya menyusun buku kecil berjudul "Muhammad dalam Perjanjian Lama dan Baru". Buku ini tersebar luas ke seluruh dunia dan dibeli oleh berbagai lapisan penganut agama-agama. Baru-baru ini saya juga telah menyusun buku kecil dengan judul "Apakah Injil itu Firman Allah?"

Tuan Deedat, metode apa yang anda pakai dalam menyusun buku anda yang terakhir itu? .
Saya mengikuti suatu metode yang tidak digunakan oleh orang lain sebelumnya, yaitu dengan menggunakan nas-nas Injil sendiri dan menggugurkan masalah yang sering dikatakan oleh para missionaris yaitu "injil adalah firman Allah". Banyak kata-kata yang terdapat dalam Injil yang sulit dipercaya dan diterima oleh akal. Selain itu di dalamnya banyak kata-kata yang menceritakan tentang "perzinaan" dan hal itu tidak masuk akal bila dikatakan perkataan atau uraian seperti itu datang dari Allah.

Kita sudah berbicara tentang dakwah, dialog, debat dan penerbitan buku. Tetapi apa sebenarnya peran anda dalam upaya mencerdaskan dan menyadarkan kaum Muslimin agar mereka tidak gugup dalam menghadapi serangan gencar dari para missionaris?

Saya sudah berusaha mengadakan penyadaran melalui ceramah-ceramah dan pertemuan-pertemuan di seluruh negeri yang saya kunjungi dan di semua universitas yang saya datangi. Saya sudah menghadiri perdebatan di Inggris, Irlandia, Amerika Serikat, Kanada, Hongkong, Singapore, India, Zimbabwe, Mauritania, Malawi, Abu Dhabi dan Saudi Arabia. Di antaranya ada yang dihadiri tidak kurang dari 30.000 hadirin.

Apa rencana anda untuk membangkitkan para da'i?

Saya sudah meyakinkan Mr. Fankar, salah seorang aktifis di pusat Dakwah Islam di Madras untuk membentuk bagian pembinaan para da'i. Kami sudah mulai melatih para da'i sepanjang pantai selatan di sana. Pekerjaan ini dalam Ma'had itu akan berjalan selama sepuluh tahun terus-menerus sampai memuaskan hati saya, sampai mereka kuat dan mampu mengemban amanat dakwah dengan jujur dan ikhlas karena Allah semata. Kami lepaskan mereka untuk menyebarkan agama Allah ke seluruh dunia, baik ke Timur maupun ke Barat demi melaksanakan perintah Allah Ta'ala, dengan penuh kejujuran dan kecintaan, sebagaimana dalam firmanNya :

"Serulah (manusia) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik..." (An Nahl: 125)

Saya melihat ada suatu kekuatan yang menyinari jiwa ragaku untuk mendorong dan menggerakkan diri dalam melangkah mengikuti titah perintah Ilahi. Meskipun menderita tapi Islam telah melapangkan dadaku dalam menunaikan tugas besar ini.

Dalam Islam saya menemukan obat mujarab dan jawaban yang memuaskan dari berbagai kemelut yang terjadi di Afrika Selatan, khususnya dalam masalah rasial, minuman keras, perjudian dan masalah lain yang amat merusak kemanusiaan. Islam menjunjung tinggi anak Adam dan menjelaskan jalan-jalannya menuju hidayah dan jalan lurus yang diridhai-Nya. Itulah obat penawar satu-satunya yang dapat memecahkan berbagai problema umat manusia dewasa ini.

Perdebatan anda yang paling tersohor yaitu ketika berhadapan dengan tuan Sowegart. Apakah selain itu, anda pernah mengadakan perdebatan dengan tokoh Masehi lainnya?

Alhamdulillah, saya telah mengadakan perdebatan dengan 32 orang pendeta di berbagai tempat di dunia. Menurut saya, yang paling tersohor adalah perdebatan yang terjadi di gedung Albert Hall, London. Perdebatan ini dihadiri oleh orang banyak dengan berbagai agama dan lapisan masyarakat. Hanya perdebatan saya dengan Sowegart lah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Apakah setelah perdebatan itu banyak orang yang masuk Islam?

Saya tidak tahu, apakah ada yang masuk Islam sesudah perdebatan itu atau tidak. Tetapi yang terpenting bagi saya adalah agar kaum Muslimin mampu menyebarkan dan membela akidahnya dan bisa menjawab tantangan para missionaris.

Sementara ini di sebagian dunia terdengar desas-desus bahwa tuan Deedat berpaham Qadiani dan berasal dari keturunan Yahudi. Bagaimana sanggahan anda?

Pertanyaan ini sangat penting. Orang memang selalu menyebarkan desas-desus di sekitar pribadi Ahmad Deedat. Tetapi sasaran utama dari desas-desus ini ialah agama kita. Buku-buku yang menyerang Islam banyak sekali. Kesalah-pahaman dan kepalsuan yang dilontarkan ke alamat Islam tidak terbilang banyaknya. Mereka melihat bahaya terbesar atas keberadaan penjajahan mereka di negara manapun akan datang dari Islam dan kaum Muslimin. Oleh karena itu, mereka rela mengeluarkan dana yang amat besar untuk menghancurkan Islam. Kalau sekiranya Ahmed Deedat masih berdagang garam, apakah akan ada orang yang mengatakan bahwa saya seorang Qadiani atau berasal dari Yahudi?

Saya mengatakan ini seperti yang saya maklumkan dalam pembicaraan saya di Abu Dhabi. Saya mengatakan bahwa saya seorang muslim dan kedua orang tua saya adalah muslim. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi juga bahwa Muhammad Saw adalah hambaNya dan rasulNya.

Mereka melancarkan serangan kepada saya karena saya sering berbicara tentang masalah Palestina dan keberadaan Yahudi di sana. Karena itulah mereka melontarkan berbagai tuduhan palsu dan keji.

Lantas, bagaimana tentang Injil?

Injil berarti kabar gembira yang biasa dibawakan Yesus dan para penulis. Para penulis berita gembira itu mengabadikan perjalanan yang dilakukan Yesus dalam menyampaikan berita gembira yang ada dalam Injil. Umpanya:

"Demikianlah Yesus berkeliling kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil, kerajaan sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan." (Matius 9:35)

"Pada suatu hari ketika Yesus mengajar orang banyak di Bait Allah dan memberitakan Injil." (Lukas 20:1)

Injil adalah berita gembira yang banyak diulang-ulang. Tapi apa berita gembira yang disampaikan Isa itu?

Di antara 27 kitab Perjanjian Baru, kaum Masehi hanya mau menerima apa yang dibawa oleh Matius, Lukas, Markus, dan Yohanes. Namun kita tidak menemukan Injil seperti yang ditulis oleh Isa sendiri.

Dengan sepenuh hati kami beriman bahwa apa yang dikatakan Isa Alaihissalam adalah wahyu ilahi. Ia adalah Injil dan berita gembira kepada bani Israil. Menurut sejarah, sepanjang hidupnya Isa Alaihissalam tidak pernah menulis sepatah kata pun, seperti juga ia tidak pernah memerintah kepada seseorang untuk menulis.

Lalu bagaimana menurut anda mengenai kerukunan agama yang senantiasa diselenggarakan antara umat Islam dan Masehi?

Untuk meninjau masalah ini terlebih dahulu perlu dipelajari dengan seksama dan dengan persiapan yang tepat.

Kaum Muslimin dan Masehi telah sepakat bahwa apa yang bersumber dari Allah melalui wahyu atau ilham wajib diabdikan pada salah satu dari keempat tujuan ini. Mungkin untuk mengajari dasar ajaran dan akidah kita atau menegur kesalahan yang kita lakukan, atau menyuguhkan apa yang benar kepada kita. Juga memberikan bimbingan kepada kita menuju jalan yang benar.

Berdasarkan hal itulah kita mempelajari berbagai tujuan ini dalam rangka untuk menyebarluaskan keadilan dan perdamaian di dunia. Namun hal ini bisa dilakukan bila mereka konsekuen dengan hal-hal yang mereka putuskan atas diri mereka sendiri dalam pertemuan di Tunis pada tahun 1974. Di situ mereka berjanji uatuk tidak menyebarkan para penginjil ke tengah-tengah kaum Muslimin. Mereka juga berjanji bahwa kegiatan missionaris mereka hanya akan digalakkan di kalangan umat yang belum menganut suatu agama, yang sedang menantikan adanya penerangan agama.

Seruan apa yang hendak anda sampaikan melalui harian "Asy Syarqul Ausath"?

Seruan itu akan saya tujukan kepada Al Azhar Asy Syarif yang mernikul beban terberat di seluruh dunia dalam menyiapkan para da'i. Para da'i harus memahami benar pokok ajaran semua agama dan dapat menjawab dengan lancar semua pertanyaan dan tantangan yang dilancarkan orang.

Selain itu juga para da'i harus dipersiapkan lebih efektif dan dibekali berbagai bahasa asing, terutama bahasa resmi tempat ia "beroperasi". Selanjutnya saya serukan juga kepada lembaga-lembaga Islam agar lebih mengerahkan semangat secara jujur demi mensukseskan dakwah dengan membekali diri pada dua ciri penting, yaitu:

Pertama, mempersatukan program dakwah dan menyadarkannya secara paralel agar semua lembaga yang ikut mendukung benar-benar konsekuen dengan program itu.

Kedua, mempersatukan derap langkah. Jangan sampai ada orang atau lembaga yang bekerja hanya mengikuti selera dan nafsunya. Semua harus bekerja sama dan berkompetisi dengan semangat ukhuwah, sehingga pekerjaan itu dapat berhasil dengan baik dan mendatangkan daya guna yang maksimal.

Terakhir, perlu dipersiapkan suatu studi yang paripurna untuk seluruh kaum Muslimin di dunia, sehingga setiap orang (meskipun ia berada di negrinya) dapat mengetahui apa yang diinginkan dan diperlukan saudaranya sedien dan seiman di bagian dunia manapun juga. Selain itu perlu pula mengirimkan para peneliti yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan konsekuen. Juga perlu mengirimkan delegasi pengajar karena mereka bisa diharapkan menjadi da'i Islam yang terbaik bila mereka selalu bersikap jujur.
Sumber: Ahmed Deedat, INJIL MEMBANTAH KETUHANAN YESUS. Penerbit: GEMA INSANI PRESS . Cetakan Keempat, Sya'ban 1414 H (Januari 1994)

Almasih bukan Nama

Dewasa ini lebih dari semilyar kaum Masehi beriman pada pernyataan "Yesus (Isa Alaihissalam) yang berasal dari Nazaret adalah Almasih". Mereka mengimaninya tanpa meneliti secara mendalam. Mereka mengemukakan "seribu satu" ramalan dari kitab suci bangsa Yahudi (Perjanjian Lama) untuk membuktikan pengakuannya tentang "Yesus adalah Almasih yang dijanjikan oleh bangsa Yahudi".

Marilah kita tinggalkan "seribu" ramalan itu dan kita teliti satu kebenaran saja, yang telah diramalkan sendiri oleh Yesus. Itu merupakan satu-satunya ramalan Yesus yang tidak diragukan lagi dalam Injil. Untuk itu marilah kita teliti kembali, apakah ia sudah menepati janjinya kepada bangsa Yahudi.

Pertama-tama, kita harus menerima kebenaran kata "Almasih" sebagai gelar, bukan nama.

Almasih terjemahan dari kata Ibrani "Mesias", yang artinya "seorang yang diurap dengan minyak kudus". Persamaan katanya dalam bahasa Yunani ialah "Christos", yang dalam bahasa Inggris disebut dengan "Christ".

Pada masa itu para alim ulama dan raja-raja yang hendak dilantik untuk menduduki suatu jabatan tertentu "diurap" dengan minyak kudus. Kitab suci memberikan gelar ini meskipun kepada Raja Cyrus (dari Parsi) yang menyembah berhala, seperti dalam bunyi ayatnya:

"Beginilah firman Tuhan: "inilah firmanKu kepada orang yang kuurapi, kepada Koresy yang tangan kanannya Kupegang, supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup." (Yesaya 45:1 )

"Lukas mengisahkan kepada kita, ujarnya:

"Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum ia dikandung ibuNya." (Lukas 2:21 )

Nama yang diberikan kepada Maryam untuk anaknya sebelum dilahirkan adalah Yesus (Isa), bukan Almasih. Ia mengaku dirinya "Almasih", sesudah dibaptis oleh Yohanes Pembabtis (Yahya Alaihissalam). Terhadap gelar ini, bangsa Yahudi tidak sepenuhnya menerima. Oleh karena itu mereka meminta suatu tanda!

Dalam Injilnya, Matius meugutarakan tentang ahli Taurat dan orang Farisi yang datang kepada Yesus untuk meminta tanda itu. Mereka berkata, "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." (Matius 12:38)

Mereka menuntut hakikat dari kebenaran yang dibawanya itu. Yang mereka minta bukan hanya suatu permainan "sulap" atau "kecepatan permainan tangan", seperti mengeluarkan kelinci dari dalam topi, atau menginjak bara api. Mereka menganggap mukjizat seperti itu hanya semacam permainan sihir dari para peramal atau dukun pembuat jampi-jampi.

Tapi apakah Yesus sudah membuktikan kebenaran janji yang pernah diucapkannya itu? Secara aklamasi umat Nasrani mengatakan "Ya!" Mereka beraklamasi tanpa memperdulikan nasihat-nasihat kitab sucinya sendiri, yang mengatakan kepada mereka: "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." (I Tesalonika 5:21 )


Sumber: Ahmed Deedat, INJIL MEMBANTAH KETUHANAN YESUS. Penerbit: GEMA INSANI PRESS . Cetakan Keempat, Sya'ban 1414 H (Januari 1994)

Masalah Kebangkitan Al-Masih

A. Tidak Ada "Tanda"
Hanya Satu Tanda Untuk Yahudi!

Namun Yesus menjawab permintaan orang Yahudi itu dengan keras dan kasar. Ia berucap, "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam." (Matius 12:339-40).

Dari perkataan di atas terlihat, Yesus tidak berusaha bersikap baik dan lemah lembut kepada orang Yahudi dengan menunjukkan bukti-bukti yang pernah diberikan selama itu, misalnya:

a. Mukjizat memulihkan penglihatan seorang pengemis buta yang bernama Bartimeus. (Markus 10:46-52) dan (Lukas 18:35-43)

b. Mukjizat menyembuhkan penyakit pendarahan wanita yang dideritanya selama dua belas tahun, sehingga sampai menghabiskan semua miliknya. Yesus melakukan itu hanya dengan menjamah jubahnya. (Markus 5:25-34)

c. Mukjizat mengeluarkan roh jahat ke dalam tubuh kawanan babi yang berjumlah lebih dari dua ribu ekor. (Markus 5:1-20) d. Mukjizat memberi makan kepada lima ribu orang yang mengikutinya. (b:l-15)

Namun sayang, terhadap orang Yahudi Yesus tidak mengingatkan mereka. Yesus tidak berusaha mengingatkan orang Yahudi agar tidak menuntut hal-hal baru dan mengajak mereka merenungi kembali tanda dan mukjizat yang sudah pernah ia berikan. Di sini Yesus malah menyatakan dengan keras dan kasar kepada mereka: "Tidak akan diberikan tanda, (kecuali satu tanda), seperti tanda nabi Yunus!"

B. Yunus Melarikan Diri Dari Tugas Da'wah.
Lantas apa sebenarnya ayat (mukjizat) Yunus Alaihissalam itu?

Untuk menemukan jawabannya terlebih dulu kita harus membaca surat Yunus dalam Perjanjian Lama. Menurut kitab itu, Allah telah memerintahkan kepada Yunus agar pergi ke kota Niniwe untuk memperingatkan penduduk kota itu agar segera bertobat dan insaf dari segala tingkah lakunya yang jahat. (Yunus 3:8)

Namun ternyata Yunus enggan pergi ke Niniwe. Ia malah melarikan diri ke Yafo. Di sana ketika ia melihat sebuah perahu yang akan berlayar, dengan cepat ia naik untuk melarikan diri dari perintah Allah.

Ketika perahu berada di tengah laut, tiba-tiba datang angin topan dan gelombang besar yang menakutkan. Melihat kejadian ini si nakhkoda berkeyakinan bahwa di antara penumpangnya pasti ada salah seorang yang telah berbuat durhaka. Si nakhkoda kemudian berembuk dengan para penumpangnya untuk mengatasi masalah ini. Kemudian mereka berkata, "Marilah kita undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini." (Yunus 1:7)

Meskipun Yunus merasa enggan memenuhi perintah Allah untuk pergi berdakwah, tapi setelah kalah dalam undian, dengan gagah berani ia menawarkan diri untuk melaksanakan hukuman itu. Katanya, "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu." (Yunus 1:12)

C. Hidup Atau Matikah, Yunus?
Dengan gagah berani nabi Yunus Alaihissalam menyerahkan dirinya untuk dijadikan tumbal dan korban. Dengan sendirinya, sebelum dilemparkan ke dalam laut, ia tidak usah dipenggal atau ditikam terlebih dahulu. Dengan sukarela ia sudah menyatakan kesiapannya untuk dilempar ke dalam laut. Seraya berkata, "Campakkanlah aku ke dalam laut! "

Kini timbul pertanyaan, "Apakah ketika dilemparkan ke dalam laut Yunus Alaihissalam dalam keadaan mati atau hidup?"

Semua anak-anak Nasrani yang mengikuti pelajaran hari Minggu akan menjawab tanpa pikir panjang lagi: "Dalam keadaan hidup! Setelah itu barulah gelombang laut dan angin ribut reda!"

Apakah hanya secara kebetulan saja ia ditelan ikan? Di dalam perut ikan itu, apakah Yunus dalam keadaan hidup atau mati?

Dengan serentak anak-anak Nasrani pasti akan menjawab, "Dalam keadaan hidup!"

Kalau begitu apa buktinya?

Mereka akan menjawab dengan serentak, "Yunus berdoa kepada Tuhan Allahnya di dalam perut ikan itu. Katanya, "Dalam kesusahan aku berdoa kepada Tuhan dan Ia menjawab aku." (Yunus 2:1-2) Selanjutnya anak-anak itu akan menjawab lagi, "Yang jelas di dalam perut ikan itu Yunus hidup, karena orang mati tidak berseru dan berdoa!"

Lantas apakah selama tiga hari ikan itu membawanya mengarungi lautan, Yunus dalam keadaan mati atau hidup?

Jawaban mereka pasti tidak akan berubah: "Hidup!"

Apakah Yunus mati atau hidup, ketika ikan itu memuntahkannya ke pantai (setelah tiga hari)?

]awaban mereka tetap tidak berubah: "Hidup!"

Jawaban anak-anak Nasrani itu bisa diterima oleh semua golongan agama, baik Yahudi, Nasrani, maupun Islam.

D. Persepsi Kaum Masehi
Terhadap Yesus, Bertentangan Dengan Peristiwa Yunus

Jika dikatakan Yunus hidup selama tiga hari tiga malam, maka seharusnya Yesus juga hidup di dalam kuburnya, seperti yang diramalkannya sendiri.

Kaum Nasrani bergantung kepada benang lapuk. Mereka menyatakan "Yesus mati". Sebenarnya hal ini dilakukan demi untuk mengabdikan pada "idee" juru selamat. Karena itulah, tidak bisa tidak; harus dijawab bahwa Yesus mati selama tiga hari tiga malam dalam kuburnya. Pernyataan ini jelas amat berbeda dengan apa yang diucapkan Yesus dalam ramalannya. Yunus tetap hidup selama tiga hari tiga malam, tetapi Yesus telah mati selama tiga hari tiga malam. Pernyataan ini juga dikemukakan oleh kaum Masehi.

Pernyataam kaum Nasrani ini amat berbeda dengan peristiwa yang telah terjadi terhadap Yunus padahal Yesus telah berkata: "Seperti Yunus". Ia tidak berkata: "Berbeda dengan Yunus!" Pernyataan kebenaran ini merupakan kebenaran ukuran Yesus yang diberikan kepada dirinya sendiri. Yesus juga mengatakan bahwa ia bukan Mesias bangsa Yahudi yang sebenarnya.

Bila yang ditulis dalam Injil yang asli itu benar demikian, maka kenapa kita mencela penolakan bangsa Yahudi terhadap "Almasih"?

Tiga hari + tiga malam = 72 jam?!

Seorang doktor ketuhanan dan profesor dalam ilmu theologi berbicara tentang masalah paragraf (Matius 12:40) yang diperselisihkan itu. la mengatakan bahwa penekanannya lebih dititik-beratkan pada masalah faktor waktu: "Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga anak manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam."

Profesor ini juga menambahkan. Katanya, "Saya meminta perhatian anda pada kata "tiga" yang diulang-ulang sebanyak empat kali untuk membuktikan bahwa Yesus merealisasikan ramalannya yang berkenaan dengan "lamanya waktu" yang akan dilaluinya di dalam kubur. lni bukan "seperti Yunus" yang berkenaan dengan keadaan hidup atau mati selama masa itu."

Bila yang ditekankan Yesus di sini hanya fakxor waktunya saja, baiklah kita bertanya kepada sang profesor itu, "Apakah Yesus sudah merealisasikan janjinya kepada orang Yahudi? Maka si Nasrani yang dogmatis akan menjawab dengan lantang: "Sudah!"

E. Kapan Yesus Disalib?
Kini timbul pertanyaan: "Kapan Almasih disalib? Seluruh dunia Masehi akan mengatakan: "Pada hari jumat!"

Peristiwa inilah yang menyebabkan timbulnya pesta peringatan yang disebut "Good Friday" (hari jumat yang baik). Seluruh umat Masehi di Amerika hingga ke Zambia , di Afrika Selatan, dari Ethiopia sampai ke Zaire semua mengadakan hari besar resmi pada hari "jumat" yang mendahului hari raya Paskah.

Timbul pertanyaan, "Apa yang membuat "Good Friday" mempunyai tempat yang begitu terhormat di kalangan kaum Nasrani?"
Seluruh umat Masehi akan serempak mengatakan: "Karena kematian Almasih di atas kayu salib pada hari ini untuk membersihkan dosa-dosa kita."

Tapi benarkah Yesus telah dibunuh di atas kayu salib pada hari jumat 1950 tahun yang lalu? Umat Masehi akan serentak menjawab: "Benar!"

Berdasarkan keterangan singkat yang ada di Injil, kami berkesimpulan kaum Yahudi sudah kegerahan benar ingin cepat-cepat membersihkan negerinya dari Yesus. Oleh karena itu, begitu Yesus tertangkap, ia langsung diadili secara kilat di tengah malam buta. Di pagi buta, pengadilan langsung mengirimkan Yesus dan menyerahkannya kepada Pilatus , wali negara itu.

Kami juga berkesimpulan, orang yang menangkap Yesus sebenarnya merasa takut, karena mereka tahu Yesus bukan saja dipandang sebagai pahlawan, tapi juga dipandang sebagai orang yang baik dan benar. Tapi sebaliknya, musuh-musuhnya sangat muak dan ingin cepat-cepat membunuhnya.

Musuh-musuhnya berhasil memaksa penguasa setempat untuk menyalibnya. Mereka jugalah yang ingin cepat-cepat menurunkan Yesus dari kayu salib sebelum matahari Jumat terbenam. Ini dilakukan demi menghormati hari Sabtu yang kudus bagi mereka (orang Yahudi). Bagi mereka hari Sabtu yang kudus dimulai sekitar pukul enam sore hari Jumat.

Untuk ini bangsa Yahudi sudah diperingatkan dalam Kitab surat Ulangan 21:23. Mereka dilarang menggantung mayat orang yang disalib yang dikutuk Allah (semalam suntuk) di atas kayu salibnya. Mayat itu harus segera dikuburkan pada hari itu juga supaya bumi Allah-tidak terkena najis.

Begitu besar perhatian mereka pada hari Sabtu. Demi mensucikan hari Sabtu maka mayat Yesus segera diturunkan dari atas kayu salibnya.

Demikianlah yang telah dilakukan oleh murid-murid rahasia Yesus kepada Pilatus . Mereka meminta agar diperbolehkan menurunkan mayat Yesus dan menguburkannya menurut adat bangsa Yahudi. Mereka memandikannya, mengafaninya dengan kain lenen dan membubuhinya dengan rempah-rempah sesuai tradisi bangsa Yahudi (Yohanes 19:39). Setelah itu mereka memasukkan mayat yang sudah dikafani itu ke dalam tanah galian kuburan menjelang malam.

Di antara berbagai golongan dan mazhab yang beraneka ragam dalam agama Masehi terdapat banyak perselisihan dan perbedaan. Namun untuk mengatasi perselisihan itu mereka telah bersepakat untuk menduga bahwa Yesus berada dalam kubur pada Jumat malam, seperti dugaan mereka Yesus masih berada di dalam kuburnya pada pagi hari Sabtu. Mereka juga menduga Yesus masih di dalam kuburnya pada Sabtu malam. Mengenai dugaan ini umat Masehi telah bersepakat dengan sepenuh hati.

Kami sengaja mengulang-ulang kata "menduga atau dugaan" hingga tiga kali, karena terhadap kejadian ini semua Injil hanya berdiam diri terutama dalam menetapkan kepastian waktu Yesus ke luar dari kuburnya.

Ada kemungkinan Yesus telah dibawa pergi oleh "murid-murid rahasianya" pada malam Jumat ke suatu tempat yang lebih aman. Tapi dalam hal ini kami tidak mempunyai hak untuk berprasangka terhadap para pengarang Injil. Oleh karena itulah saya sengaja mengulang kata "menduga dan dugaan" sampai tiga kali.

Sekarang marilah kita melihat pemecahan terakhir tentang kebenaran Yesus (telah tinggal) dalam kuburnya selama tiga hari tiga malam.

Dalam kitab suci umat Nasrani sendiri dikatakan bahwa Yesus dikubur sore hari jumat menjelang matahari terbenam, dan sudah tidak diketemukan lagi mayatnya dalam kubur pada pagi hari Ahad sebelum matahari terbit (lihat uraian dalam tabel). Dengan demikian jelaslah, Yesus tinggal di dalam kuburannya bukan tiga hari tiga malam (seperti yang dikatakan para penginjil), tetapi hanya sehari dua malam!

Dari pengamatan terhadap keterangan kitab suci kaum Masehi itu kita melihat untuk kedua kalinya Yesus telah gagal "membuktikan janjinya". Pertama, ketika Yesus berbeda dengan Yunus. Yunus berada dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam dalam keadaan hidup. Tapi Yesus sebaliknya. la mati kemudian bangkit dari tengah-tengah orang mati itu.

Kedua, ketika terungkap bahwa tiga hari tiga malam yang dinyatakan dengan tegas oleh semua Injil itu setelah diselidiki ternyata hanya sehari dua malam. Maria Magdalena pergi ke kuburannya menjelang fajar menyingsing pagi hari ahad, tetapi Yesus sudah tidak ada lagi di kuburannya.

Keluarga Armstrong telah mengeksploitasi seluruh dunia Masehi. Tampaknya keluarga itu telah mempelajari ilmu hitung dengan baik.

Dalam majalah "Plain Truth", Mr. Robert Fahey menguraikan ceramahnya sewaktu di hotel Holiday inn di Durban . Dalam ceramahnya itu Mr. Robert Fahey berusaha meyakinkan para pendengarnya yang kristen, bahwa Yesus disalib pada hari Rabu bukan hari jumat, seperti yang diduga kaum Masehi Orthodoks selama dua ribu tahun yang lalu.

Berdasarkan pengamatan dan anggapannya itu, ia mengemukakan bahwa kalau seseorang menghitung mundur dari pagi hari Ahad, maka akan ditemukan tiga hari tiga malam. Karena itu, penyaliban harus ditetapkan hari Rabu bukan Jumat.

Saya mengucapkan selamat kepada Mr. Robert Fahey atas kemahirannya. Lantas saya bertanya kepadanya, "Bagaimana dengan upacara "Good Friday" yang telah dirayakan kaum Masehi sejak dua ribu tahun yang lampau, apakah akan ditukar dengan "Good Wednesday"? Tapi bagaimana mungkin. Dewasa ini hampir di seluruh dunia kaum Masehi yang berjumlah lebih dari 2,2 milyar tidak mengetahui waktu yang sebenarnya Yesus disalib. Ini berarti gereja kaum Katolik yang mengaku memiliki rangkaian tidak terputus dalam kepausan sejak Petrus sampai hari ini berdasarkan pengakuan atau penemuan Mr. Fahey semuanya telah tersesat.

F. Siapa Yang Menyesatkan Kaum Maselii?
Timbul lagi pertanyaan: "Siapa yang telah menyesatkan kaum Masehi selama dua ribu tahun yang lalu, Allah atau Setan?

Mr. Robert Fahey menjawab dengan tegas: "Setan!"

Lantas saya berkata lagi kepada Mr. Fahey, "Begitu mudahnya setan mengaburkan hal-hal yang prinsip dalam akidah mereka. Perayaan yang sudah beribu tahun mereka namakan "Good Friday" dengan segera dapat diganti dengan "Good Wednesday. Kalau begitu, sudah sejauh mana upaya penyesatan terhadap kaum Masehi di sekitar hakikat keesaan Allah, baik ketuhananNya maupun kekuasaanNya, yang tampaknya jauh lebih mudah dilakukan?

Mendengar pertanyaan saya ini, Mr. Robert Fahey tidak memberi komentar apa-apa. Ia malah berlalu dan pergi.

Kalau demikian rupa keimanan guru akidah Masehi dunia dewasa ini, apakah tidak pada tempatnya bila kita mengajukan pertanyaan lagi: "Apakah ini bukan suatu tipu daya. terbesar dalam sejarah?"[]

Sumber: Ahmed Deedat, INJIL MEMBANTAH KETUHANAN YESUS. Penerbit: GEMA INSANI PRESS . Cetakan Keempat, Sya'ban 1414 H (Januari 1994)

Dialog antara Ahmad Deedat dan Pendeta Rev. Roberts (DIREKTUR LEMBAGA AL-KlTAB AFRIKA SELATAN)

Dalam pelajaran nomor dua yang saya berikan ("Who Moved the Stone?") dulu, saya berjanji akan membahas perbedaan ukuran yang dipakai oleh penganut agama Masehi. Dalam bagian ini kami akan manafsirkan permasalahan yang sedang kita hadapi sekarang, yakni mengenai "Kebangkitan atau Kebangunan".

Saya tengah merencanakan untuk melakukan perjalanan ke Transvaa di Afrika Selatan dalam rangka mengadakan dakwah keliling. Sebelum itu lebih dahulu saya menelpon rekan saya yang bernamz Hafidh Yusuf Dadu dari Standerton untuk mengabarkan rencana perjalanan keliling yang akan segera saya lakukan itu.

Rekan saya mengatakan bahwa ia sedang mempelajari bahasa Ibrani. Ia berharap supaya saya berusaha memperoleh kitab suci dalam bahasa Ibrani yang disertai tafsir bahasa Inggris.

Saya pergi ke toko buku Lembaga A1 kitab di Durban . Saya berhasil mendapatkan buku itu tanpa menemui kesulitan. Saya menemukan kitab suci yang "authorized version" yang juga dikenal dengan "King James Version".

Ketika saya sedang mencari kitab yang baik dan yang harganya relatif murah itu, saya melihat seorang ibu yang duduk di belakang meja sedang menelpon seseorang. Tiba-tiba ia bertanya kepada saya, "Maaf Tuan, apakah tuan Ahmed Deedat?" Saya menjawab singkat, "Ya."

Kemudian ia berkata lagi, "Direktur Lembaga Al kitab ingin berbincang-bincang dengan tuan." Saya menjawab, "Dengan segala senang hati." Kemudian ia meneruskan bicaranya. Saya jawab dengan gurauan sambil melepaskan senyum kepadanya, "Saya kira anda sedang memanggil polisi, karena saya telah melihat-lihat kitab suci lama dan banyak sekali." Ia berkata, "Tidak, pendeta Rev. Roberts, direktur Lembaga Alkitab ini ingin bercakap-cakap dengan tuan."

Tak lama kemudian, pendeta Roberts datang menghampiri saya dan memperkenalkan dirinya kepada saya. Kemudian ia meminta kitab suci yang ada di tangan saya. Lalu saya berikan kitab itu. Dia kemudian membuka dan membacakan ayat itu untuk saya. Bacanya:

"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (Yohanes 17:3)

Sesudah saya mendengarkan bacaannya dari kitab sucinya itu, saya menjawab, "Saya menerima!" Maksudnya ialah menerima isi risalah yang ingin disampaikan kepada saya. Pada waktu itu saya tidak mengatakan kepadanya bahwa apa yang disaimpaikan kepada saya sama dengan apa yang dibawa A1-Qur'anul Karim kepada umat manusia sejak empat belas abad yang lalu tentang kewajiban semua orang untuk beriman "dengan Allah yang Maha Esa lagi Maha Kuat, dan bahwa Isa Alaihissalam (Yesus Almasih) tak lain hanya seorang rasul dari Allah. Kalimat Al-Qur'an itu berbunyi sebagai berikut:
…Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam Itu adalah utusan Allah dan (yang terjadi dengan) kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh daripada-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasulNya dan Janganlah kamu mengatakan: (Tuhan Itu) tiga." (An Nisaa: 171)

Sudah tentu pendeta Roberts senang sekali mendengar jawaban saya. Kemudian ia cepat-cepat membuka kitab sucinya dan mencari ayat lain. Ia mulai membaca kalimat-kalimat yang dikatakan dari Yesus. Bacanya:

"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu." (Yohanes 13: 34-35)

Setelah selesai membaca teks itu, saya menyambutnya dengan berkomentar: "Baik sekali!" Rupanya jawaban dan komentar saya itu makin membuatnya lebih berani. Untuk mendapatkan seorang penginjil baru ia membacakan ayat lagi:

"Jangari kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (matius 7:i-2)

Sebagai komentar atas paragraf itu saya menjawab, "Saya setuju!"

Sebab utama persetujuan dan penerimaan saya terhadap yang dibacakan pendeta itu kepada saya, bukan untuk mendapatkan diskon khusus. Namun karena kutipan-kutipan yang dibacakannya itu pada umumnya memiliki kesamaan dengan risalah dan pikiran yang Allah berikan kepada kita untuk dikumandangkan, diajarkan dan diamalkan. Kalau saya memisahkan segi-segi kebenaran antara kaum Muslimin dan kaum Masehi maka itu
berarti saya akan menjadi seorang pendengki yang tidak punya toleransi.

Misalnya, saya mengatakan tentang sesuatu risalah tertentu dalam kitab kita (Al-Qur'anul Karim) itu sangat baik, tapi mengatakan buruk sekali pada risalah yang sama yang terdapat dalam kitabnya. Itu menandakan saya sudah menjadi juara munafiq dan pekerjaan itu merupakan kepalsuan akhlak.

Apa tujuan yang sebenarnya ingin dicapai pendeta Rev. Roberts dalam membacakan kitab sucinya kepada saya?

Memang benar, saya mendapatkan "diskon khusus" dari semua kitab yang saya beli dari toko buku itu, dan mungkin saya satu-satunya orang non Masehi yang mendapatkan diskon seperti itu. Dari ciri-ciri pakaian dan jenggot saya, dia tentu tahu bahwa saya seorang muslim. Meskipun saya telah diberinya diskon terhadap semua buku-buku yang saya beli tapi tetap saja dia belum bisa merubah saya menjadi seorang Nasrani.

Dengan lemah lembut dan berusaha bijak bestari, sang direktur yarig pendeta itu membacakan beberapa ayat Injil kepada saya untuk mengetahui reaksi saya. Rupanya ia tidak tahu bahwa saya sudah mengetahui semua teks-teks yang indah itu sejak lama. Malah akhirnya ia heran, mengapa hingga kini saya belum juga menganut agama Masehi?

Selama ini pendeta yang sopan itu telah bertindak sebagai guru yang ingin mengajar dan membantu muridnya mengetahui lebih dalam. Oleh karena Nabi Saw kita memerintahkan kepada kita dalam sabdanya: "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang ke lahad!"

"Tuntutlah ilmu meskipun ke negeri Cina!"

Sebagai umat Muhammad Saw saya amat bersemangat untuk belajar. Maka saya berkata, "Saya sependapat dengan semua yang telah anda bacakan kepada saya. Tetapi saya menemukan problem dengan kitab suci anda."

Ia bertanya, "Problem apa kiranya yang menyulitkan anda?" Saya menjawab, "Saya harap anda membaca Injil Lukas 3:23!" Maka ia pun melakukannya.

Saya berkata lagi kepadanya, "Tolong anda bacakan kepada saya!" la pun membacanya.

"Ketika Yesus memulai pekerjaannya, la berumur kira-kira tiga puluh tahun dan Dia (menurut anggapan orang) adalah anak Yusuf, anak Eli." (Lukas 3:231)

Saya perlihatkan kepada pendeta itu kalimat yang diberi kurung: (menurut anggapan orang). Lalu saya bertanya kepadanya, "Apakah anda melihat kalimat yang diberi kurung itu?"

Ia menjawab, "Ya, saya melihatnya!" Lalu saya tanyakan kepadanya, "Kenapa ada kalimat yang berkurung di situ?" Lantas ia mengakui dan berkata, "Saya tidak tahu pasti, tetapi saya akan menanyakannya kepada salah seorang ahli kitab suci."

Saya heran dengan kerendahan hatinya. Padahal menurut saya, semua direktur Lembaga A1 Kitab di Afrika Selatan berasal dari pensiunan pendeta. Akhirnya saya berkata kepadanya, "Baiklah, kalau anda tidak tahu, ijinkanlah saya yang akan memberitahukan kepada anda mengenai alasan diberinya kalimat yang berkurung itu. Tidak usahlah anda bersusah-susah menanyakannya kepada ahli kitab suci."

Saya lalu menjelaskan hal itu kepadanya. Dalam "manuskrip" Injil Lukas "yang lebih kuno" tidak terdapat kalimat "(menurut anggapan orang)". Sebenarnya ini hanya pekerjaan penerjemah Injil yang merasa bahwa tanpa adanya tambahan (penjelasan) yang asing ini, dikhawatirkan "domba-domba kecil"1 yang belum kuat benar imannya; akan tergelincir dalam keyakinannya, bahwa Yusuf si tukang kayu itulah bapak yang sebenarnya dari Yesus. Dengan alasan itulah, mereka memberikan tambahan penjelasan pribadi dan diberi kurung agar jangan sampai terjadi kesalah-pahaman.

Selanjutnya saya menambahkan, "Sebenarnya saya tidak ingin mencari-cari kesalahan dalam cara atau sistem kalian dalam menambah kalimat di antara kurung itu untuk membantu para pembaca yang masih awam."

"Tetapi yang membuat saya heran ialah karena dalam seluruh penerjemahan kitab suci ke dalam bahasa Afrika dan bahasa Timur lainnya, kalian telah membiarkan kalimat "menurut anggapan orang." dan telah menghilangkan kedua kurungnya itu. Kalau begitu tidak mungkinkah bangsa-bangsa di seluruh dunia ini (selain Inggris) tidak memahami arti dan tujuan dari kedua kurung itu?"

Saya melanjutkan pembicaraan lagi, "Apa jeleknya orang-orang yang berbicara bahasa Afrikaans? Kenapa kalian menyingkirkan kedua kurung itu dari Injil terjemahan ke bahasa Afrikaan, sedang kalimatnya masih tetap?"'

Mendengar uraian saya itu, sang Direktur yang pendeta itu langsung memprotes, "Saya, tidak melakukannya."

Saya lalu menjawab lagi, "Saya tidak menuduh anda. Tetapi kenapa lembaga Al Kitab yang anda wakili dan para ulama kitab suci berani main-main "dengan firman Allah"2 Bila Allah yang Maha Kuat tidak merasa perlu melindungi Lukas dari kesalahan3 lantas apa orang lain mempunyai hak untuk menambah atau menghilangkan suatu kalimat dari "kitab Allah"? Atas dasar hak apa kalian membuat atau memalsukan "kalimat-kalimat Allah"?

Ada kemungkinan kalimat-kalimat tambahan yang diletakkan di antara dua kurung itu, jika kedua kurungnya diangkat, maka akan dikatakan orang sebagai keterangan dari Lukas juga. Karena dalam penyusunan Injilnya, ia mendapat ilham dari Allah. Oleh karena itu pemalsuan yang disusupkan pada teks-teks yang asli itu dengan sendirinya akan menjadi firman Allah juga.

Akhirnya saya sudahi uraian saya dengan kata-kata di bawah ini:

"Sesungguhnya ulama-ulama ketuhanan modern dewasa ini telah berhasil gemilang. Sementara ahli kimia jaman dahulu telah gagal merubah logam yang murah menjadi emas yang berkilau-kilauan."

Dalam perbincangan ini, sang pendeta mengalihkan pembicaraan, ke luar dari pokok pembicaraan semula. sehingga membuat saya berkata, "Hati-hatilah tuan, tampaknya orang Inggris sudah banyak yang tidak mengetahui bahasanya sendiri."

Dia membalas perkataan saya dengan tajam dan cepat. Katanya, "Apakah dengan begitu, anda bermaksud mengatakan bahwa anda lebih memahami bahasa saya daripada diri saya sendiri?"

Saya menjawab, "Sungguh tidak tahu malu saya, kalau saya mengatakan kepada orang Inggris, bahwa saya lebih memahami bahasanya."

Ia bertanya lagi, "Lalu apa yang anda maksud dengan perkataan "tampaknya orang-orang Inggris sudah banyak yang tidak mengetahui bahasanya sendiri"?"

Saya mengulangi peringatan saya sekali lagi, "Hati-hatilah tuan, kalian membaca kitab suci dengan bahasa ibu kalian seperti yang dilakukan semua kaum Masehi yang terdiri dari ribuan bahasa dunia. Meskipun begitu, tampaknya setiap kelompok bahasa Masehi memahami bahwa suatu hakikat bertolak belakang dari apa yang dibacanya."

Pendeta itu bertanya lagi, "Maksud anda bagaimana?"

Saya melanjutkan pembicaraan, "Apakah anda ingat peristiwa ketika Yesus muncul kembali, sesudah disebarluaskan pengumuman seolah-olah ia telah disalib. la muncul sambil berkata kepada murid-muridnya, "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut. Mereka menyangka bahwa mereka melihat hantu." (Lukas 24:36)

Mendengar perkataan itu, sang direktur Lembaga A1 Kitab itu menyatakan ingat terhadap peristiwa itu.

Lalu saya bertanya, "Apa yang membuat mereka (para murid) takut? Jika seseorang melihat temannya datang, seharusnya ia memberikan reaksi yang wajar dan normal. Menunjukkan rasa bahagianya yang luar biasa. Malah biasanya ada yang menyambutnya dengan peluk cium yang mesra. Tapi mengapa murid-murid Yesus itu malah takut metihat gurunya datang?!"

Sang pendeta menjawab, "Karena mereka (para murid) menyangka bahwa mereka melihat hantu."

Saya bertanya lagi, "Apakah Yesus menyerupai hantu?" Dia menjawab, "Tidak!"
Saya bertanya lagi, "Kalau begitu, mengapa mereka menyangka melihat hantu, jika selama ini Yesus tidak menyerupai hantu?"

Tampaknya pendeta itu mendapat kesulitan besar. Aku berkata lagi, "Ijinkanlah saya menafsirkan hal itu kepada anda."

Lantas saya berkata kepadanya, "Hati-hatilah, tuan, sesungguhnya murid-murid Almasih itu bukan saksi mata (eyewitnesses) atau saksi dengar (ear-witnesses) atau saksi peristiwa hakiki yang terjadi selama tiga hari yang lalu seperti yang diuraikan Markus, bahwa dalam situasi yang paling berbahaya dan paling sulit dalam kehidupan Yesus: "Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri." (Markus 14:50)4

Jadi, semua berita yang diketahui murid-murid itu tentang Yesus diperoleh dari desas-desus5 yang mengatakan, bahwa dia disalib dan mereka mendengar dia sudah menghembuskan napas terakhirnya. Mereka juga mendengar bahwa dia sudah dikubur selama tiga hari. Orang yang dijejali berita semacam ini6 tidak heran kalau mereka berkesimpulan seperti melihat hantu. Maka tidak mengherankan kita bila kesepuluh muridnya yang pemberani itu kaget dan terperanjat ketika melihat Yesus kembali.

"Untuk menghilangkan salah paham dan rasa. takut yang mengganggu mereka, Yesus mengajak mereka menggunakan akal sehat, ucapnya, "Lihatlah tanganKu dan kakiKu: Aku sendirilah ini." (Lukas 24:39)

Dalam bahasa kita Yesus berkata kepada mereka, "Wahai, kawan-kawan! Kenapa kalian tampak gelisahdan ketakutan. Tidakkah kalian melihat, bahwa aku ini adalah gurumu yang selalu berjalan bersamamu, yang selalu berbincang-bincang denganmu dan memecahkan roti bersamamu. Aku ini orangnya dengan tubuh dan darahnya dari semua. sisinya. Apa yang membuat pikiran kalian berubah dan ragu-ragu?"

"Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat." (Lukas 24:39)

Atau dengan kata lain, Yesus seolah-olah berkata kepada mereka, "Kalau aku mempunyai daging dan tulang, maka dengan sendirinya aku bukan hantu, mayat, atau roh!"

Saya bertanya kembali kepada pendeta itu, "Apakah uraian ini benar?"
Ia menjawab, "Ya, benar!"

Selanjutnya aku berkata, "'Sesungguhnya Yesus memberitahukan kepada kalian seperti yang tertera dalam nasnya dengan jelas dan dengan bahasa yang sangat sederhana, bahwa tubuh yang diminta kepada murid-muridnya untuk diraba dan dilihat itu bukan tubuh yang "diperbaharui". Juga bukan tubuh yang dirubah dan yang dibangkitkan. Tubuh yang dibangkitkan dari mati ialah tubuh rohani (Spiritualized body). Dia menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami bahwa dia tidak seperti yang mereka duga. Murid-muridnya mengira bahwa dia adalah roh. Bahwa dia adalah tubuh yang dibangkitkan ke dalam kehidupan setelah dari kematian. Tetapi Yesus dengan tegas dan jelas mengatakan bahwa dia tidak demikian."

Mendengar uraian itu, sang pendeta bergumam. Tiba-tiba ia bertanya, "Namun apa yang membuat anda yakin bahwa tubuh yang dibangkitkan dari mati tidak akan dapat menjelma sebagai tubuh materi (materialize physically), seperti yang dilakukan Yesus dengan jelas?"

Saya menjawab, "Karena Yesus sendiri yang mengatakan bahwa tubuh yang dibangkitkan dari mati berubah ke alam rohaniah."

Sang pendeta masih bertanya lagi dengan hati yang belum puas, "Kapan Yesus mengatakannya?"

Saya menjawab, "Anda masih ingat peristiwa yang dicatat dalam Injil Lukas 20:17 ketika Yesus didatangi ahli-ahli Taurat yang sudah tua-tua. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan sulit dan pelik kepadanya. Antara lain tentang wanita Yahudi yang kawin dengan tujuh orang lelaki silih berganti, sesuai dengan adat Yahudi8. Setelah beberapa lama kemudian, meninggallah ketujuh orang suami dan istrinya itu?"

Sang pendeta mengatakan, "Ya, saya ingat!"

Saya lanjutkan perkataan saya, "Adapun perangkap yang dipasang untuk Yesus oleh ahli-ahli Taurat dan tua-tua itu adalah untuk menggelincirkan Yesus lewat pertanyaan ini:

"Siapakah di antara orang-orang (suami yang tujuh) itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan?" Mereka sudah menghujah Yesus, bahwa "wanita itu adalah istri dari tujuh orang (semuanya)" Sewaktu mereka menunaikan tugasnya masing-masing untuk mendapatkan anak keturunan dari wanita itu memang tidak menemukan masalah apa-apa, karena mereka semua adalah suaminya. Hal ini dilakukan silih berganti karena mereka masing-masing mengawini wanita itu setelah suaminya meninggal dunia. Namun pada hari kiamat, ketika ketujuh suami itu dihidupkan bersama-sama, akan terjadi persengketaan hebat di langit. Mereka masing-masing ingin memiliki bekas istrinya, apalagi kalau mereka merasa mendapatkan kepuasan yarig mengesankan dari si istri sewaktu mereka hidup bersama dahulu."

"Yesus berhasil menelanjangi kepalsuan pandangan mereka tentang kiamat dari mati. Dia berkata kepada mereka, bahwa pada hari kiamat dari mati "mereka tidak dapat mati lagi". (Lukas 20:36) Ini berarti, orang yang dibangkitkan dari mati akan hidup kekal (immortalized). Mereka tidak akan mati lagi. Mereka tidak akan merasa lapar, haus dan letih. Walhasil, semua senjata maut tidak akan mampu menewaskan tubuh yang sudah dibangkitkan dari mati. Selanjutnya Yesus menafsirkan dalam sabdanya,

"Mereka (tubuh yang dibangkitkan dari mati itu) sama seperti malaikat." Ini berarti pembawaan mereka akan berubah yaitu ke alam malaikat, alam rohaniah. Mereka akan menjadi makhluk rohaniah (artinya roh-roh). "Mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan." (Lukas 20:36)

Sang pendeta kemudian bertanya lagi dengan pertanyaannya yang menantang, "Namun, apa yang membuat anda begitu yakin...?"

Pertanyaannya telah mengeluarkan saya dari pokok pembicaraan yang tengah saya uraikan. Saya lanjutkan perkataan saya tadi, "Dia tidak demikian, seperti yang mereka sangka. Dia tidak berubah jadi roh, hantu atau mayat. Agar lebih jelas, ia memperlihatkan tangan dan kakinya untuk diteliti dan diamati untuk membuktikan bahwa tubuhnya masih tetap sepeiti yang dulu (material physical body) dan untuk menghilangkan kegelisahan dan keraguan mereka yang tidak beralasan. Setelah itu ia bertanya kepada mereka, "Adakah padamu makanan di sini?" (maksudnya, sesuatu yang bisa dimakan). "lalu mereka memberikan kepadaNya sepotong ikan goreng (dan sarang madu sedikit9). Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka10." (Lukas 24:41-43)

Lantas apa yang ingin dibuktikan Yesus dengan semua yang dilakukannya itu, yaitu dengan memperlihatkan kedua tangan dan kakinya dan menyuruh mereka merabanya. Yesus juga meminta makanan dan mengunyah ikan goreng dan sarang madu yang mereka berikan (di hadapan mereka)?

Apakah kata-kata dan peragaannya itu hanya sekedar sandiwara atau permainan komedi semata?

Untuk lebih jelasnya, baiklah, sekarang kami akan mengetengahkan jawaban yang diberikan oleh F. Schleiermacher11 pada tahun 1819. Ia menjawab, "Tidak!"

Ia mengucapkan jawaban itu seratus tahun yang lalu, sebelum saya dilahirkan. Tuan Albert Schweizer mengabadikan kata-katanya sebagai berikut: "Kalau Yesus hanya makan untuk membuktikan bahwa ia bisa makan, padahal ia tidak benar-benar butuh makanan. Tentu hal itu hanya suatu sandiwara semata dan hanya suatu Docetic12.

Ketika saya berbincang-bincang mengenai masalah ini dengan direktur Lembaga Alkitab, saya belum tahu sedikitpun tentang F. Schleiermacher dan para ulama Masehi lainnya yang juga meragukan kematian Yesus di atas kayu salib. Hal ini juga diabadikan oleh Albert Schweizer dalam bukunya yang berjudul "In Quest of the Historical Jesus", page.64.

Apa yang membuat umat Masehi ragu-ragu? Bukankah Yesus sudah memberitahukan kepada kalian dengan berbagai gaya bahasa yang jelas. Malah lebih dijelaskan lagi dengan sebuah peragaan, untuk membuktikan bahwa dia adalah manusia seutuhnya, bukan roh dan belum berubah ke alam rohaniah, dan bahwa dia bukan manusia yang dibangkitkan dari kematian. Tapi biarpun begitu, seluruh alam Masehi tetap meyakini bahwa Yesus telah dibangkitkan dari kematian (Yang saya maksud ialah ia telah berubah ke alam rohaniah).

Lalu siapa yang telah berbohong, kalian atau dia?

Bagaimana mungkin kalian (semua umat Masehi) membaca kitab suci kalian dengan bahasa ibu kalian meskipun mereka dan semua kelompok bahasa telah dipersiapkan untuk memahami kebalikan dari yang mereka baca?!

Kalau anda membaca kitab suci anda yang berbahasa Ibrani, misalnya, lalu anda mengatakan kurang paham dengan apa yang anda baca, kemungkinan saya bisa menerima alasan itu. Begitu pula jika anda membacanya dalam bahasa Yunani, lalu anda mengatakan tidak paham benar maksud dan tujuan yang ditulis. Hal itu mungkin bisa saya terima dengan baik. Tetapi tampaknya dalam diri kalian sudah ada perlawanan terhadap kaidah ketika kalian membaca kitab suci sekalipun dengan bahasa ibu kalian.

Kalian juga sudah terlatih dalam memahami kebalikan dari apa yang tertulis. Kalau sudah begitu, bagaimana caranya mencuci otak kalian? Atau seperti yang dikatakan bangsa Amerika: Bagaimana caranya memprogram kalian?

Kalau begitu, saya mohon dengan sangat, supaya kalian memberitahukan kepada saya, siapa yang berbohong, Yesus atau seribu juta umat Masehi di dunia ini?

Yesus mengatakan: "Tidak!", tentang kebangkitannya dari kematian. Sedangkan kalian semua mengatakan: "Ya!"

Kalau begitu siapa yang patut dipercaya oleh kaum Muslimin, Yesus atau orang-orang yang mengaku muridnya itu?

Kita sebagai kaum Muslimin sudah jelas akan mempercayai gurunya daripada muridnya. Bukankah Yesus sendiri mengatakan, "Seorang murid tidak lebih daripada gurunya." (Matius 10:24)

Demikianlah perbincangan saya dengan direktur Lembaga Alkitab Durban. Hasilnya ternyata lebih dari yang saya harapkan. Tapi akhirnya pendeta itu mengakhiri percakapan dengan sopan sambil meminta maaf dan meminta ijin untuk berpisah dengan alasan toko bukunya akan segera tutup. Dia berharap dapat bertemu lagi dengan saya, tapi tampaknya ia melarikan diri dari pembicaraan itu walaupun dengan cara yang sopan.

Saya berharap pembaca yang budiman dapat menyingkirkan sarang laba-laba yang direntangkan pada akal anda yang dapat mengacau pikiran anda dalam masalah "penyaliban". Jika anda dapat memahaminya maka hal ini akan merupakan hadiah besar untuk saya.

"Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Tetapi Ia berkata kepada mereka, "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tanganKu dan kakiKu: Aku sendiri ini; rabahlah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaKu." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kakiNya kepada mereka. Ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah 1a kepada Mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan kepadaNya sepotong ikan goreng (dan sarang madu sedikit)13.

Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka". (Lukas 24:36-43).

01. Dalam bicaranya. Ahmed Deedat menggunakan kata (little lambs) seperti yang digunakan Yesus dalam mengisyaratkan para pengikutnya. Yesus berkata, "Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala." (Lukas 10:3) Mungkin yang dimaksud penulis dengan "domba-domba kecil" ialah para pengikut yang baru (penerjemah).

02. Dalam transkript bahasa Arab keluaran Lembaga A1 Kitab di Timur Tengah kalimat "(menurut anggapan orang)" tetap ada, tapi kedua kurungnya sudah dihilangkan. Begitu pula dalam transkript bahasa Indonesia keluaran Lembaga A1 Kitab Indonesia, Jakarta, 1977.

03..Kaum Masehi berkeyakinan bahwa semua Injil yang sah itu ditulis oleh para "murid" dengan wahyu dari Roh Kudus. Namun berdasarkan bukti ilmiah terbukti bahwa keempat injil yang dikatakan sah dewasa ini, tidak satu pun yang ditulis oleh kedua belas murid pilihan Yesus! (Baca Encyclopedia Britanica, V-3, P. 573; V-13, P.83; V-14, P. 911 dan 912).

04. Injil Mateus dalam hal ini lebih jelas. Ujarnya. "Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri." (Matius 26:56)

05. Lukas meyakinkan hal itu pada pembukaan Injilnya. Ujarnya, "...Seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan firman." (Lukas 1:2)

06. Lukas juga meyakinkan kita bahwa murid-murid itu tidak percaya ketika mendengar desas-desus yang disebarluaskan orang tentang gurunya. Ujarnya, "Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong-kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kafan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi." (Lukas 24:11-12)
Memang aneh bin ajaib, bagaimana mungkin mereka merasa heran, padahal Guru mereka sudah meramalkan dan memberitahukan hal yang diherankan oleh mereka itu?!

07. Lihat Lukas 20:1

08. Lihat Ulangan 25:5-10

09. Dalam Lukas 24:43, (dan sarang madu sedikit) terjemahan dalam bahasa lndonesia, keluaran Lembaga Alkitab Indonesia, ]akarta, 1977, ditiadakan!

10. Dalam terjemahan Inggris katolik salinan dari naskah bahasa Vulgar latin, terdapat tambahan sebagai berikut: "And when he had eaten in their presence he took what remained and gave it to them." Kalimat inipun dalam terjemahan bahasa Indonesia tidak ada!

11. F. Schleirmacher, salah seorang ulama kitab suci dan penemu teori tentang sumber-sumber Injil yang empat. Diketengahkan pada tahun 1832 M. "Dia memperkirakan adanya kumpulan kecil tulisan atau fragmen. Dari sanalah para pengarang lnjil menulis Injilnya. (Fragments hypothesis)

12. Docetic berasal dari Docetism, yaitu suatu paham, bid'ah dalam agama. Paham ini bertentangan dengan aliran yang resmi sejak abad kedua Masehi. Ia mengatakan bahwa tubuh Almasih itu hanya seperti hantu (semblance), maya (phantom) atau benda semacam ether (etheral substance). Kata itu berasal dari bahasa Yunani, "dokesis", artinya maya, hantu atau dokeein (to seem), berarti: tampaknya. Maksudnya ialah sesuatu yang disebutkan tentang atau yang dinasabkan kepada orang yang berbicara dengan kata-kata bid'ah itu.

13. Kalimat yang diberi dua kurung di atas: (dan sarang madu sedikit), sudah dibuang dari naskah versi standar yang diperbaiki (Revised Standard version) dari Kitab Suci dan dari berbagai terjemahan lain dalam bahasa Afrika. Kenapa? Dalam buku kami yang akan segera diterbitkan: "Apakah Kitab Suci itu Firman Allah?", akan dijelaskan kepada Anda, kenapa?


Sumber: Ahmed Deedat, INJIL MEMBANTAH KETUHANAN YESUS. Penerbit: GEMA INSANI PRESS . Cetakan Keempat, Sya'ban 1414 H (Januari 1994)

ASAL MULA POHON NATAL

Sekarang dari manakah kita mendapatkan kebiasaan memasang pohon Natal itu? Di antara para penganut agama Pagan kuno, pohon itu disebut "Mistletoe" yang dipakai pada saat perayaan musim panas, karena mereka harus memberikan persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan. Kebiasaan berciuman di bawah pohon itu merupakan awal acara di malam hari, yang dilanjutkan dengan pesta makan dan minum sepuas-puasnya, sebagai perayaan yang diselenggarakan untuk memperingati kematian "Matahari Tua" dan kelahiran "Matahari Baru" di musim panas.

Rangkaian bunga suci yang disebut "Holly Berries" juga dipersembahkan kepada dewa Matahari. Sedangkan batang pohon Yule dianggap sebagai wujud dari dewa matahari. Begitu pula menyalakan lilin yang terdapat dalam upayara Kristen hanyalah kelanjutan dari kebiasaan kafir, sebagai tanda penghormatan terhadap dewa matahari yang bergeser menempati angkasa sebelah selatan.

Encyclopedia Americana menjelaskan sebagai berikut:

"The Holly, the Mistletoe, the Yule log ?are relics of pre-Christian times."

"Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe dan batang pohon Yule?yang dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari zaman sebelum Kristen."

Sedangkan buku Answer to Question yang ditulis oleh Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa:

"The use of Christmas wreath is believed by authorities to be traceable to the pagan customs of decorating buildings and places of worship at the feast which took place at the same time as Christmas. The Christmas tree is from Egypt , and its origin date from a period long anterior to the Christian Era."

"Hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen."

SIAPA SANTA CLAUS/SINTERKLAS ITU?


Santa Claus bukan ajaran yang berasal dari paganisme, tetapi juga bukan ajaran Kristen. Sinterklas ini adalah ciptaan seorang pastur yang bernama "Santo Nicolas" yang hidup pada abad ke empat Masehi. Hal ini dijelaskan oleh Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, yang berbunyi sebagai berikut:

"St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of December? A Legent of his surreptitious bestowal of dowries on the three daughters of an improverrished citizen? is said to have originated the old custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6), subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus?"

"St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember?Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin? untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan
ke dalam malam Natal . Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus?"

Sungguh merupakan kejanggalan! Orang tua menghukum anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang Natal , mereka membohongi anak-anak dengan cerita Sinterklas yang memberikan hadiah di saat mereka tidur. Bukankah ini suatu keanehan, ketika anak-anak menginjak dewasa dan mengenal kebenaran, pasti akan beranggapan bahwa Tuhan hanyalah mitos atau dongeng belaka?

Dengan cara ini tidak sedikit orang yang merasa tertipu, dan mereka pun mengatakan:

"Ya, saya akan membongkar pula tentang mitos Yesus Kristus!" Inikah ajaran Kristen yang mengajarkan mitos dan kebohongan kepada anak-anak? Padahal Tuhan sudah mengatakan:

"Janganlah menjadi saksi palsu. Dan ada cara yang menurut manusia betul, tetapi sebenarnya itu adalah ke jalan kematian dan kesesatan." Oleh karena itu, upacara "Si Santa Tua" itu juga merupakan Setan.

Di dalam kitab suci telah dijelaskan sebagai berikut:

"Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi itu bukanlah hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka." (II Korintus 11:14)

Dari bukti-bukti nyata yang telah kita ungkap tadi dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau Christmas itu bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya, melainkan kebiasaan para penyembah berhala (Paganis). Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia ribuan tahun yang lampau.



KATA BIBEL TENTANG POHON NATAL


Bagaimana Bibel berbicara tentang Natal , atau mencatat pandangan para murid Yesus atau bapak-bapak geraja awal. Jawabannya sungguh sangat mengejutkan bagi kalangan Kristen sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Bibel (Alkitab) pada kitab Yeremia 10:2-4 yang berbunyi sebagai berikut:

"Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan."

"Bukankah berhala itu pohon yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu?

Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang."

Itulah keterangan yang jelas dari Bibel tentang pohon Natal . Kita dilarang mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala. Sebab hal itu merupakan perbuatan yang sesat menyekutukan Tuhan. Pada ayat kelima dijelaskan bahwa:

"Pohon itu tidak bisa berbicara, dan orang harus mengangkatnya, karena ia tidak bisa berjalan sendiri."
"Janganlah takut kepadanya, sebab ia tidak dapat berbuat jahat, juga tidak dapat berbuat baik."

Sebab mereka bukanlah dewa yang harus ditakuti. Bagi mereka yang tidak pernah membaca atau yang melupakan ayat ini, beranggapan bahwa tidak ada larangan untuk membuat pohon Natal . Tetapi jika telah membacanya, apa yang harus dikatakan?


Sumber: "Misteri Natal "
By Herbert W. Armstrong

SEJARAH NATAL

Kata Christmas ( Natal ) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran "Yesus". Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.

Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul "Christmas", anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:

"Christmas was not among the earliest festivals of Church ? the first evidence of the feast is from Egypt . Pagan customs centering around the January calends gravitated to christmas."

"Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja ? bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus."

Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul "Natal Day," Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:

"In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Paraoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world."

"Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini."

Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut:

"Christmas was not among the earliest festivals of the church? It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward from paganism."

"Natal bukanlah upacar - upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala."

Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut:

"Christmas?It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth?" (The "Communion," which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) "?A feast was established in memory of this event (Christ's birth) in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ's birth existed."

"Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut.." ("Perjamuan Suci" yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) "?Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari." Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus."

Sekarang perhatikan! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian - jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat - upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Barat, Roma dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakannya sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.


YESUS TIDAK LAHIR PADA 25 DESEMBER


Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut:

"Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud."

Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.

Adam Clarke mengatakan:

"It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain." (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York ).

"Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama)."

Adam Clarke melanjutkan:

"During the time they were out, the sepherds watch them night and day. As?the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometime in october), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact?See the quotation from the Talmudists in Lightfoot."

"Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila?hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah?sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab "Ringan Kaki".

Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.

Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur - yang diperkirakan jatuh pada bulan September - atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.

Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya.


Sumber: "Misteri Natal "
By Herbert W. Armstrong

Kamis, 30 Juli 2009

Paramitha Rusady, Ajak Calon Suami Masuk Islam


HUBUNGAN asmara artis cantik Paramitha Rusady dengan kekasih bulenya Newad Bago Heno semakin serius saja. Buktinya dalam beberapa acara Mitha begitu dia biasa dipanggil tak malu-malu lagi menggandeng sang kekasih. Bahkan hari Rabu malam lalu, saat perempuan kelahiran 11 Januari 1966 ini menyanyi di atas panggung dia sempatkkan untuk mengekspresikan kecintaannya. "Nenad sayang, this song for you," begitu katanya sambil menyebut nama panggilan kesayangannya.

Ditanya seberapa seriusnya, Mitha memberikan jawaban yang meyakinkan. "Insya Allah Februari tahun depan kami akan menikah. Tapi kami belum bisa menyebutkan tanggalnya. Tunggu saja kabar selanjutnya ya," tutur putri pasangan Marry Zumarya- Yus Rusady Wirahaditenaya ramah.

Jalan untuk menuju ke sana memang terlihat lebih mudah. Mereka sling mencintai dan kedua belah pihak orang tua juga sudah saling merestui. Bahkan perbedaan keyakinan juga tak lagi menjadi penghalang. Karena sejak Oktober lalu Nenad sudah menjadi seorang Muslim.

Hubungan Mitha dengan laki-laki yang juga berprofesi sebagai dosen fakultas hukum di negaranya, Kroasia itu sudah berjalan hampir setahun. Nenad adalah cinta pertama Mitha. Mereka bertemu pertama kali saat Mitha baru berusia 14 tahun.

Ditanya kesiapannya punya istri artis Nenad menjawab, "Saya nggak pernah nyangka Mitha bakalan jadi artis tenar seperti sekarang. Kalau itu yang terjadi sekarang ya saya harus terima risikonya dong. Tapi yang pasti di mata saya Mitha tak pernah terlihat sebagai seorang artis."

Nenad mengatakan kecantikan dan kebaikan Mithalah yang membuatnya jatuh cinta dan ingin segera meresmikan hubungannya dengan adik Ully Sigar Rusady ini. "Saya sangat mencintai dia dan saya yakin dia adalah perempuan yang paling tepat untuk menjadi istri saya," pungkasnya disambut senyuman manis dari sang kekasih yang ada di sampingnya.